Langkah korea selatan sukses menurunkan kasus virus corona
WHO memuji cara Korea
Selatan menangani virus corona, baik dalam menahan laju penyebarannya maupun
perawatan pasien terinfeksi. Rasio sembuhnya pun mencapai 48%, sedangkan tingkat
kematiannya hanya 1,5% pada 27 Maret.
Bermula dari satu pasien pada awal Februari, jumlah kasus
Covid-19 di Korea Selatan (Korsel) melonjak drastis. Dari rata-rata dua kasus
per hari, terjadi tambahan kasus baru hingga 900 orang pada akhir Februari. Ini
disebabkan seorang perempuan berusia 61 tahun yang kemudian diidentifikasi sebagai
Pasien 31. Perempuan itu sebelumnya telah mengalami gejala pada awal Februari,
dan disarankan untuk beristirahat dan melakukan tes. Namun dia masih menghadiri
dua kali ibadah yang diikuti ribuan jamaah di Gereja Shincheonji, Daegu, pada 9
dan 16 Februari. Ia sendiri baru melakukan tes pada 17 Februari dan dinyatakan
sebagai Pasien 31 sehari berikutnya. Korea Centers for Disease Control and
Prevention (KCDC) memperkirakan ada 9.200 orang yang mengikuti dua peribadahan
tersebut. Sekitar 1.200 orang di antaranya mengaku mengalami gejala mirip flu.
Tak ayal dari Pasien 31 lalu terbentuk klaster baru kasus corona, sekaligus
yang terbesar dan muncul berentet sejak 20 Februari. Dari 9.137 kasus
terkonfirmasi positif pada 25 Maret, sekitar 56 persen (5.080 kasus) terhubung
dengan Pasien 31.
Tanpa menunggu waktu,
pemerintahan Presiden Moon Jae-in langsung menetapkan kota di sebelah tenggara
Daegu sebagai “kawasan bencana khusus”. Kebijakan ini lalu diikuti serangkaian
langkah mengatasi penyebaran virus yang menyerang saluran pernafasan tersebut.
Titik terang pun muncul. KCDC mencatat pertambahan kasus pada pekan pertama
Maret 2020 turun ke kisaran 500-600 kasus per hari. Kemudian turun lagi ke
rentang 100-200 kasus per hari pada pekan berikutnya. Pada 23 Maret 2020, hanya
ada 64 kasus baru, sekaligus yang terendah sejak virus corona mewabah di negara
itu. Strategi yang diambil pemerintah Korsel berbeda dengan dengan kebijakan
isolasi atau lockdown yang diterapkan sejumlah negara, seperti Tiongkok di
Wuhan, Italia, dan Spanyol. Korsel justru mengambil langkah yang melibatkan
partisipasi penuh masyarakat. Langkah yang kemudian disarankan agar diterapkan
ke sejumlah negara yang kasusnya meningkat tajam.
Salah satu kunci sukses Korsel menekan tambahan kasus adalah melakukan pemeriksaan secara massal dan gratis. Dengan cara itu, pasien positif Covid-19 bisa lebih cepat terdeteksi dan mendapatkan perawatan, sehingga mencegah penularan ke banyak orang. Selain di klinik dan rumah sakit, pemerintah menyediakan stasiun pemeriksaan bersistem drive-thru di berbagai kota. Para tenaga kesehatan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk mengukur suhu tubuh serta melakukan swab hidung dan tenggorokan setiap orang yang datang. Hasil pemeriksaan dikabarkan satu hari setelahnya melalui SMS.
Dalam sehari, Korea Selatan bisa memeriksa sekitar 15 ribu
orang. Hingga 24 Maret 2020, sebanyak 348.600 orang telah menjalani
pemeriksaan. Dengan populasi sekitar 51,3 juta jiwa, ada sekitar 6,8 ribu orang
yang dites spesimennya per 1 juta populasi.
Meski pemeriksaan massal berhasil menurunkan kurva virus corona di Korsel, pemerintah tetap bersiaga jika terjadi gelombang kasus besar yang kedua. Penyebabnya, ada kasus-kasus baru yang saling berkaitan atau membentuk penyebaran komunitas. Terutama yang muncul di gereja, rumah sakit, perkantoran, serta pusat olahraga.
Meski pemeriksaan massal berhasil menurunkan kurva virus corona di Korsel, pemerintah tetap bersiaga jika terjadi gelombang kasus besar yang kedua. Penyebabnya, ada kasus-kasus baru yang saling berkaitan atau membentuk penyebaran komunitas. Terutama yang muncul di gereja, rumah sakit, perkantoran, serta pusat olahraga.
Oleh
karena itu, Perdana Menteri Korsel Chung Sye-kyun menetapkan pemberlakuan
social distancing selama 15 hari hingga 3 April 2020. Artinya kegiatan di luar
rumah dibatasi, kecuali untuk berbelanja bahan makanan atau mengunjungi dokter.
Jika bepergian ke luar pun harus menjaga jarak minimal dua meter dari orang
lain. Chung mengatakan, seperti dilansir dari The Korea Herald, langkah ini
harus dilakukan oleh semua penduduk. Tujuannya menekan laju penyebaran dan
jumlah pasien virus corona hingga di bawah kapasitas fasilitas kesehatan.
Sebelumnya, pemerintah hanya memberikan imbauan agar masyarakat berkesadaran
menerapkan social distancing. Namun, langkah ini mulai dilupakan, terutama oleh
kelompok usia muda, ketika tren kasus Covid-19 mulai menurun. Alhasil
pemerintah pun menerapkan paksaan dengan mengenakan denda dan ancaman pidana
bagi yang melanggar kebijakan social distancing.
Komunikasi yang efektif dilakukan otoritas di Korea Selatan dengan memberikan informasi secara cepat dan terbuka pada penduduk. KCDC merilis laporan perkembangan virus corona soal jumlah kasus dan keterkaitan antarpasien sebanyak dua kali dalam sehari.
Pemerintah juga
mengirimkan pesan ke ponsel setiap orang mengenai area-area yang telah
dikunjungi pasien terinfeksi. Dengan demikian, penduduk yang terpaksa keluar
rumah dapat menghindari area yang dianggap berbahaya.
Kemudian jika penduduk
merasa pernah melakukan kontak atau berada di jarak yang dekat dengan pasien,
mereka bisa langsung memeriksakan diri.








Komentar
Posting Komentar